Saturday , October 21 2017
Home / Forhati / HMI-WATI HARAPAN NEGARA

HMI-WATI HARAPAN NEGARA

“Perempuan adalah tiang negara, bila kaum perempuannya baik maka baiklah negaranya, dan apabila perempuannya buruk (amoral) maka buruklah negaranya”.

Penuturan kata-kata di atas adalah suatu syair yang kita ketahui dari arab. Penegasan kata-kata tersebut lebih diabadikan di dalam paragraf Mukaddimah Pedoman Dasar KOHATI (PDK). Syair tersebut adalah suatu harapan atau suatu gambaran keadaan realitas dalam negara yang apabila perempuannya baik maka baiklah  negaranya, atau sebaliknya. 

Landasan yang lebih kuat lagi tentang kedudukan perempuan bagi kita yang meyakini sumber Islam (Al-qur’an dan Hadist), dalam hadist Rasulullah menyebutkan kedudukan seorang ibu sampai tiga kali dan keempat kalinya barulah ayah. Kejadian hadist itu ketika seorang sahabat bertanya tentang hal itu. Betapa Nabi Allah juga berangkat dari perjuangan membela kaum perempuan pada masa itu.

Dalam sejarah perempuan Islam, kiranya dapat kita berikan contoh tokoh-tokoh perempuan nan sangat mulia hatinya dan kuat imannya, yaitu adanya ummul mukminin atau perempuan shaliha (muslimah yang taat) yaitu Siti Khadijah (isteri pertama Rasulullah SAW), Siti aisyah (isteri Rasulullah SAW. atas berkatnya hadist-hadist bisa dapat diketahui secara pasti) dan Siti Fatimah (putri Rasulullah dan isteri imam Ali). kiranya tokoh-tokoh tersebut dapat menjadi inspirator perempuan-perempuan yang ada di dunia ini, bukan berarti kita menyampingkan tokoh-tokoh muslimah lainnya yang telah banyak berjuang untuk kebaikan selama dalam sejarah keperempuanan.

Marilah kiranya kita lihat keadaan mayoritas perempuan muslim Indonesia hari ini, kita melihat adanya pergeseran nilai, kultural, pergeseran pemahaman atau belum sama sekali paham dengan apa yang dialaminya saat ini. Perempuan muslim saat ini, khususnya di Indonesia, dalam ukuran mayoritas tidak mencerminkan sebagai muslimah yang baik. Saat ini, mengumbar-umbar aurat sudah hal yang biasa dalam kesehari-hariannya. Perempuan yang menutup auratnya dikatakan tidak zamani dan kolot, sedangkan yang mempertontonkan aurat kepada orang yang tidak berhak dipandang suatu trand dan dikatakan maju. Sungguh pola pemikiran yang salah pada pandangan tersebut. Singkatnya, tidak terlihat adanya semangat Islam dalam dirinya.

Kalau kita tarik ke belakang (sejarah penjajahan Belanda di Indonesia), perempuan-perempuan Indonesia sangat membenci adanya budaya-budaya yang datang dari Barat apalagi itu dari Belanda. Jangankan meniru bahasanya, memakai pakaian ala Belanda mereka tidak mau bahkan lagu-lagu barat menjadi lagu-lagu ejekan. Alasannya, karena menurut mereka hal itu dapat mengikis nasionalismenya, dengan sikap itu perempuan ikut berjuang untuk negara dengan segala cara yang dilakukannya. Sungguh mereka adalah perempuan-perempuan pejuang di Indonesia, suatu sosok perempuan yang ideal.

Meneropong masa sekarang, bagaimana perempuan-perempuan Indonesia, khususnya perempuan Islam di Indonesia? Seperti apakah mereka saat ini? Apakah mereka berjuang dengan cara apa yang bisa dibuatnya untuk mempertahankan Indonesia dan agamanya yang diserang secara terus menerus secara halus. Diserang secara halus maksudnya adalah perempuan dipengaruhi atau dirusak dengan menggunakan sarana-prasarana yang diciptakan di Era Globalisasi dan Modernisasi saat ini. Dahulunya perempuan Indonesia sangat membenci cara-cara orang penjajah dalam pola sikapnya dan tindakannya, seperti mempertontonkan auratnya, sekarang kita lihat lewat begitu didepan mata kita setiap harinya. Hal itu menjadi suantu kebanggaan bagi mereka, lebih miris lagi saat ini banyak kita lihat artis-artis mempertontonkan auratnya dengan bebas lewat Televisi. Dari pertunjukan-pertunjukan liar itu, banyak pulalah perempuan yang mengikuti gaya berpakaian artis tersebut.

Berangkant dari kondisi ini, jauh-jauh hari sudah lama realitas ini ditangkap oleh satu kelompok intelektual muslimah, maka dari itu dibentuklah Korps HMI Wati (KOHATI), suatu lembaga semi-otonom dibawah naungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di dalam lembaga semi-otonom ini jelas diisi oleh mahasiswi-mahasiswi Islam (Muslimah) atau sering kita sebut HMI-Wati yang telah dikader, dibina secara mandiri, terdidik menjadi perempuan-perempuan yang berkualitas, sehingga HMI-Wati megerti dan paham dalam peran perempuan dalam pembangunan negara.

Pada Mukaddimah Pedoman Dasar KOHATI (PDK) menyebutkan bahwa dalam rangka memaknai peran strategis tersebut, HMI-Wati dituntut untuk menguasai Ilmu Agama sebagai landasan atas keiman, Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) untuk kemudahan dalam aktivitas di dunia, serta keterampilan yang tinggi dengan senantiasa menyadari fitrahnya. Labih lanjut, tujuan KOHATI yang diisi HMI-Wati adalah terbinanya muslimah yang berkualitas insan cita. Dimana kita ketahui kualitas insan cita  dalam tafsir tujuan HMI itu terdiri dari : (a). Kualitas Insan Akademis, (b). Kualitas Insan Pencipta, (c). Kualitas Insan Pengabdi, (d). Kualitas Insan yang bernafaskan Islam dan (e). Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Untuk melihat usaha yang dilakukan dalam mewujudkan HMI-Wati yang berkualitas atau menjadi sosok perempuan yang ideal, ada kualifikasi yang sudah dibuat telah menjadi konsep pengembangan kualitas diri HMI-Wati. Dengan itu, HMI-Wati mempunyai kelebihan, yaitu : (a), Kualifikasi Intelektual, (b). Kualifikasi Kepemimpinan, (c). Kualifikasi Manajerial, dan (d). Kualifikasi Kemandirian. Disamping itu, ada wacana HMI-Wati dan juga spesifikasi gerakan dengan kajian-kajian keperempuanan dalam Islam, peningkatan keintelektualan dengan menggabungkan kajian Tridharma Perguruan Tinggi, dan keperempuanan masa kini.

Dari hal-hal di atas, akan lahirlah HMI-Wati yang menjadi sosok perempuan yang ideal, perempuan yang penuh keimanan, perempuan yang akan berguna untuk negara dan bangsa dan juga keluarganya. HMI-Wati tidak mudah terpengaruh dengan arus leberalisme, globalisasi dan modernisasi yang menjerumuskan manusia. Kalaupun modernisasi tidak terbendung lagi, maka HMI-Wati sudah siap menghadapinya dan tidak menjadi korban. HMI-Wati tidak akan menjadi perempuan pengumbar aurat, perempuan pengrusak tatanan masyarakat tidak menjadi perempuan amoral.

Dengan kualitas insan citanya, dan proses yang dialaminya (proses psikologi dan intelektual), jadi HMI-Wati dengan kemampuan atau kualitas iman yang kuat, intelektual yang tinggi, perempuan yang mandiri dan perempuan yang bermoral. Jadilah ia menjadi sosok perempuan ideal yang mengerjakan amal kebajikan untuk kehidupan yang lebih baik.

Barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan akan kami berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl; 16 : 97).

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
22

Check Also

pendidikan

PENDIDIKAN SOCRATES ATAU CONFUSIAN PADA MODEL PENDIDIKAN KITA

Kebudayaan dunia saat ini secara garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *