Saturday , October 21 2017
Home / Forhati / ANTARA KAHMI DAN FORHATI

ANTARA KAHMI DAN FORHATI

KIPRAH Korps Alumni HMI (KAHMI) sudah banyak orang mengenalnya, daripada FORHATI (Forum Alumni HMI-Wati). FORHATI didirian pada Sabtu, 12 Desember 1998 di Jakarta, yang kemudian ditetapkan sebagai lembaga semi otonom KAHMI pada Munas VII KAHMI tanggal 19-22 Desember 2004 di Jakarta.
Dalam kenyataannya, FORHATI memang “kalah” populer dengan KAHMI. FORHATI dibentuk sebagai wadah dari anggota-anggotanya, yang merupakan alumni HMI-Wati untuk secara bersama-sama mampu mengembangkan pengamalan ilmu pengetahuan, wawasan, serta potensi yang dimilikinya dalam rangka untuk bertaqwa kepada Allah SWT menuju tercapainya masyarakat madani (masyarakat adil, makmur yang diridhai Allah SWT).

Sebagai “kelanjutan” dari status KOHATI atau alumni HMI-Wati, FORHATI memang masih muda belia, tentu belum banyak diketahui dan dipahami seperti apa FORHATI tersebut. Bila ditimbang-timbang, dan dikaji lebih jauh, FORHATI memiliki peran yang tidak kecil untuk menopang program KAHMI, terutama program pemberdayaan perempuan sebagai elemen bangsa dan daerah. Berangkat dari dasar pembentukan FORHATI, tentu penguatan unsur ke-Islaman, intelektualitas, dan ke-Indonesiaan menjadi hal yang paling urgen harus menjadi perhatian KAHMI dan FORHATI, terutama dalam merumuskan program-program kerja dalam Rapat Pleno 1 KAHMI-FORHATI Memberi Warna

Persoalan perempuan dan anak, terlebih-lebih diikuti dengan kekerasan yang berlaku dalam rumah tangga di sebagian keluarga masyarakat Indonesia dan khususnya di Maluku Utara, telah menjadi masalah yang cukup mengkhawatirkan bagi ketahanan masa depan keluarga. Betapa tidak, kehadiran FORHATI yang merupakan produk dari HMI/HMI-Wati tidak terlepas dari tanggung jawab untuk membangun karakter bangsa yang bertumpu pada nilai-nilai moralitas dan akhlakul karimah yang merupakan prioritas acuan menuntaskan permasalahan masyarakat bangsa.
Persoalan perempuan dan anak, selama ini masih jauh dari perhatian KAHMI dan FORHATI, baik secara internal maupun eksternal. Pelibatan soal perempuan di tubuh KAHMI dan FORHATI lebih dalam skope politik. Bagaimana mendulang jumlah suara untuk memenuhi target kursi dan sebagainya. Tetapi untuk memberi jawaban atas persoalan perempuan dan anak selama ini, terlebih-lebih kasus-kasus trafficking, pelecehan seksual, dan lain-lain, yang merendahkan dan menistakan kaum perempuan dan anak, KAHMI dan FORHATI seolah tidak mampu menegakkan kepala.

Alumni HMI/HMI-Wati terhimpun di hampir semua bidang dan organisasi, dengan potensi dan profesi yang beragam. Dengan demikian, jalinan hubungan bersama kelompok civil society dalam menyelesaian kasus-kasus perempuan dan anak, misalnya, mutlak diperlukan. Ruang-ruang sinergi dan dialog intensif dengan jejaring kerja organisasi perempuan terkait untuk menegaskan sikap terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan sudah harus dirumuskan

KAHMI dan FORHATI ibarat dua sisi dari satu keping mata uang, terus berikhtiar untuk berperan aktif dan melaksanakan program implementatif dalam berbagai sektor kehidupan dengan mengedepankan profesionalitas, akhlakul karimah dan moral, sebagai perwujudan dari insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi yang memiliki kesadaran tinggi untuk berjuang secara aktif tercapainya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
11

Check Also

pendidikan

PENDIDIKAN SOCRATES ATAU CONFUSIAN PADA MODEL PENDIDIKAN KITA

Kebudayaan dunia saat ini secara garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *